PERENCANAAN PELAJARAN

PERENCANAAN PELAJARAN

Para guru mungkin merasa bingung tentang “ apa yang harus mereka lakukan ‘ sebelum masuk ke kelas. Hal ini berarti bahwa para guru perlu merencanakan apa yang akan mereka lakukan di kelas. Kebanyakan mereka membuat perencanaan secara tahunan, unit, mingguan dan rencana pembelajaran harian (Yinger, 1980). Perencanaan pembelajaran ya sifatnya tahunan dan semesteran biasanya mencakup beberapa objectives untuk program program tertentu. Satu unit rencana pembelajaran adalah sejumlah pelajaran yang saling terkait dalam satu suatu tema khusus, seperti tema “The Family” . Rencana pembelajaran harian adalah hasil akhir dari suatu proses perencanaan yang kompleks yang mencakup rencana pembelajarn tahunan, semesteran dan rencana rencana per unit. Suatu rencana pembelajaran harian memuat deskripsi tentang bagaimana kemajuan siswa dalam mencapai tujuan yang hendak dicapai.

Pada bab ini dibahas rencana pembelajaran harian yang dibuat oleh guru bahasa Inggris sebelum masuk ke kelas. Selain itu juga dibahas juga tentang keputusan yang sipatnya interaktif dan evaluatif yang dibuat oleh guru sebelum dan sesudah pelajaran. Richards (1998) menekankan pentingnya perencanaan pembelajaran bagi guru bahasa Inggris: “kesuksesan guru dalam melaksanakan suatu pelajaran tergantung pada keefektifan rencanan pembelajaran” (p.103). Untuk hal tersebut maka pada bab ini perencanaan pembelajaran didefinisikan sebagai keputusan – keputusan harian yanbg dibuat oleh guru untuk mencapai hasil belajar yang sukses. Pada bab ini dibahas isu – isu yang terkait dengan perencanaan pembelajaran:

Kenapa merencanakan rencana pembelajaran?

Model model rencana pembelajaran

Bagaimana merencanakan suatu rencana pembelajaran

Kenapa Merencanakan?

Bisa saja timbul pertanyaan dalam diri guru bahasa Inggris: kenapa mereka mesti terganggu untuk menulis rencana – rencana untuk setiap pelajaran? Ada beberapa guru yang menulis detail rencana pembelaran., sementara yang lain hanya membuat rencana di kepala mereka. PRESERVICE TEACHER mengatakan bahwa mereka membuat rencana pembelajaran harian hanya karena ada pengawas, kelompok guru atau administrasi sekolah yang meminta mereka untuk melakukan hal tersebut. Setelah mereka tamat, kebanyaka dari merek berhenti menulis rencana pembelajaran. Tetapi tidak banyak yang guru yang masuk kedalam kelas tanpa persiapan rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran adalah rekaman sistematik pikiran guru tentang apa saja yang tercakup selama proses pembalajaran. Richards (1998) mengatakan bahwa rencana pembelajaran membantu guru dalam memikirkan pelajaran secara mendalam untuk memecahkan masalah dan kesulitan kesulitan, memberikan struktur pembelajaran, memberikan “peta” untuk diikuti oleh guru dan memberikan rekaman tentang apa yang telah diajarkan (p.103).

Ada juga alasan intertnal dan eksternal kenapa kitan merencanakan pembelajaran (McCutcheon, 1980). Alasan internalnya adalah agar merasa lebih yakin, agar dapat mempelajari mata pelajaran lebih baik, agar pelajaran berjalan dengan lancar dan untuk mengantisipasi sebelum terjadi masalah. Alasan eksternalnya adalah untuk memenuhi harapan kepala sekolah atau pengawas dan agar ada acuan bagi guru pengganti jikan terjadi penggantian pada suatu kelas. Rencana pembelajaran penting bagi PRESERVICE TEACHER karena mereka akan merasa ada control sebelum pelajaran dimulai.

Rencana pembelajaran harian memberikan keuntungan bagi guru bahasa Inggris:

Adanya suatu rencana dapat memnbantu guru memikirkan isi, matei, urutan,

waktu dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan

Suatu rencana pembelajarn memberikan keamanan (dalam bentuk peta) pada situasi kelas yang terkadang tidak bias diprediksi.

suatu rencana pembelajaran merupaka kumpulan apa saja yang telah diajarkan

Suatu rencana pembelajaran dapat membantu guru pengganti yang akan masuk pada kelas untuk menggantikan guru yang tidak dapat masuk.

Rencana pembelajaran harian juga memberikan keuntungan bagi para siswa karena akan mengatasi keragaman latar belakan di dalam kelas, kepentingan, gaya belajar, dan kemampuan para siswa dalam kelas.

Model Rencana Pembelajaran

Ada sejumlah pendekatan dalam merencanakan pembnelajaran. Model yang banyak dipakai adalah Model “Rasional – Linear Framework” yang dibuat oleh Tyler (1949). Model Tyler ini punya empat tahapan yang dilakukan secara urutan: 1. Specific objectives, 2. pemilihan aktivitas belajar, 3. pengorganisasian aktivitas pembelajaran, 4. metode evaluasi khusus. Model Tyler sampai sekarang masih digunakan secara luas meskipun pada kenyataanya para guru jarang mengikuti urutan proses linear tersebut (Borko & Niles, 1987). Sebagai contoh, Taylor (1970) meneliti apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh para guru pada saat mereka merencanakan pelajaran mereka. Dia menemukan bahwa mereka pada umumnya terfokus pada ketertarikan dan kebutuhan siswa mereka. Yang lebih oenting, dia menemukan bahwa pada saat mereka masih berada di program pendidikan para guru tersebut tidak dipersiapkan dengan baik untuk merencanakan pembelajaran.

Menanggapi temuan tersebut, Yinger (1980) mengembangkan satu modell alternative dimana perencanaan dilakukan dalam bagian – bagian. Bagian pertama terdiri atas “konsepsi masalah” dimana rencana dimulai dengan penemuan siklus pengintegrasian tujuan guru, pengetahuan dan pengalaman. Bagian kedua melihat bagaimana masalah diformulasikan dan menemukan suatu solusi. Bagian ketiga meliputi implementasi rencana dan evaluasinya. Yinger melihat proses ini sebagai suatu rutinitas, dimana setiap rencana dipengaruhi oleh apa yang telah dilakukan dan oleh hal yang mungkin terjadi di masa yang akan dating. Dia juga melihat adanya peluang bagi pengalaman yang dimiliki oleh guru yang mempengaruhi proses yang sedang berlangsung.

Riset tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru bahasa Inggris lakukan ketika melakukan perencanaan pelajaran menunjukan bahwa ketika mereka menulis rencana pengajaran cenderung mengalami penyimpangan dari rencana awal. Juga, ketika guru bahasa Inggris menulis rencana pengajaran harian, mereka tidak tidak menyatakn mereka tidak menyatakan mereka dalam behavioral objectives, meskipun mereka telah diajarkan hal ini pada masa pendidikan keguruan mereka (Richards & Lockhart, 1994; Freeman,1996; Bailey,1996). Guru bahasa Inggris khususnya mereka yang berpengalaman cenderun merencnakan pelajaran mereka sebagai suatu urutan aktivitas (Freeman,1996), rutinitas mengajar, atau terfokus pada kebutuhan siswa tertentu (Richards & Lockhart,1994)

Bailey’s (1996,p.38) mempelajari enam guru bahas Inggris yang berpengalaman. Dia menemukan alasan – alasan (yang dikenal sebagai prinsip prinsip) kenapa para guru tersebut cenderung menyimpang dari rencana awal rencana pembelajaran: (1) “serve the common good”. Disini para guru cenderung untuk cenderung untuk menimpan g dari rencana awal rencana pemmbelajarn karena ada siswa yang mengangkat isu (masalah) yang relavan bagi siswa lainnya. 2. “’Teach to the moment” . terkadang para guru benar benar meninggalkan rencana pengajaran dan membahas sesuatu yang diluar rencana. 3. “Further the lesson”. Para guru melakukan perubahan procedural selama pelajaran sebagai upaya untuk mencapai kemajuan pelajaran. 4. “Accommodate students’ learning styles”. Para guru mungkin meninggalkan rencana pengajaranmereka dengan maksud untuk mengakomidasi cara belajar siswa. Hal ini bias terjadi jika rencana awal tersebut tidak begitu bisa bekerja dengan baik. 5. “Promote students’ involvement” . para guru kadang menghilangkan beberapa langkah dalam rencana p[embelajaran mereka agar lebih banyak siswa yang terlibat , khususnya jika para siswa tersebut tidak memberikan respon yang baik. 6. “Distribute wealth”. Prinsip terakhir ini biasanya dilakukan oleh para guru agar lebih banyak siswa yang berpartisipasi dan mengontrol siswa tertentu (khususnya yang aktif) yang mendominasi kelas. Temuan ini menunjukan bahwa keputusan guru adalah sustu proses dinamis yang melibatkan keputusan membuat pilihan sebelum, selama dan setelah setiap pelajaran.

Pertanyaan yang muncul dari study ini adala Jenis rencana pembelajaran apakah yang harus ditulis oleh guru bahasa Inggris buat? Pada bagian selanjutnya akan dibahas bagaiomana mengembangkan, mengimplementasikan dan mengevaluasi rencana pembelajaran.

BAGAIMANA MERENCNAKAN PEMBELAJARAN

Mengembangkan Rencana

Suatu rencana pembelajaran yang aktif dimulai dengan objektiv dan yang jelas dan tepat. Suatu objective adalah deskripsi tentang outcome pembelajaran. Objective mengambarkan tujuan (bukan perjalanan) yang akan dicapai siswa. Objective yang ditulis dengan baik dan jelas merupakan langkah pertama dalam rencana pembelajaran harian. Objective ini akan membantu dalam mementukana apa yan akan dipelajari oleh siswa, membantu dalam penentuan kegiatan yang tepat, dan pelajaran menjadi lebih terfokus dan terarah. Objective juga merupakan ssuatu cara untuk mengevaluasi apa yang telah dipelajari oleh siswa pad aakhir pembelajaran. Objective yang dibuat dengan jelas juga akan lebih focus pada siswa.

Untuk pelajaran bahasa Inggris, Shrum & Glisan (1994) menyatakan bahwa objective yang efektif menggambarkan apa kemampuan yang akan dicapai oleh siswa yang berupa perilaku yang dapat dilihat dan pada saat mereka menggunakan bahasa tersebut (p.48). Oleh karena itulah menetapkanobjective adalah sesuatu yang penting bagi guru bahasa Inggris. Saya sarankan untuk menggunakan action verbs yang dbisa digunakan untuk mengidentifikasi perilaku siswa; bisa juga termasuk kata kerja operasional yang termasuk dalam taksonomi bloom. Kata kerja semu seperti mengerti, menghargai, menikmati harus dihindari karena kata kerja jenis tersebut sulit untuk di kuantitaskan. Kata kerja seperti mengidentifikasi, hadir, menggambarkan, menjelaskan, mendemonstrasikan, mendaftar, membandingkan, dan berdebat lebih jelas dna lebih mudah bagi gurudigunakan guru dalam menrancang pelajaranya. Menggunaka kata – kata kerja ini juga memudahkan siswa untuk mengerti apa yang mereka harus capai dari tiap pelajaran.

Tabel 1

No

Phase Pelajaran

Peranan Guru

Peranan Siswa

1

Pembuka

► Bertanya pada siswa

tentang apa yang telah

mereka pelajari

sebelumnya

► Gambaran tentang

pelajajaran yang baru

Mengatakan apa yan telah

mereka pelajari

sebelumnya

► Merespon gambaran ttg

pelajaranyan baru

2

Stimulasi

► Mempersiapkan siswa

untuk aktivitas yang baru

► Menampilkan aktivitas

untuk menarik perhatian

siswa

►Menghubungkan kegiatan

yang mnereka lakukan

dengan kehidupan mereka

Memberikan respon

3

Instruksi / Partisipasi

► Menampilkan aktivitas

utama

► Mengecek pemahaman

► Mendorong keterlibatan

► Melakukan aktivitas

► Menunjukan pemahaman

► Melakukan interaksi

4

Penutup

► Menanyakan apa yang

telah dipelajari siswa

► Gambaran singkat

pelajaran yang akan

datang

► Katakan pada mereka apa

yang telah dmereka pelajari

► Berikan inpu tentang

pelajaran yang akan dating

5

Follow Up

► Berikan aktivitas lain sbg

penguatan, untuk konsep

yang sama

►Berikan kesempatan untuk

berinteraksi

► Melakukan kegiatan baru

► Melakukan interaksi

Diadaptasi dari Shrum & Glisan (1994)

Setelah menulis objective pelajaran, guru harus mementukan aktivitas dan prosedur yang akan mereka gunakan untuk memastikan keberhasilan tercapinya objecktive – objective ini. Perencanaan pada bagian ini berarti pemikiran tantang maksud dan susunan activities. Pada tahapan inimelibatkan perencanaan bagian bagian pelajaran. Untuk menandai bagian dari bagian penting dari komponen komponen rencana pembelajarn bahasa, Saya memakai model Glisan & Shrum (1994) yang merupakan adaptasi dari Hunter & Russel (1977). Mereka memberikan kesempatan yang luas bagi siswa untuk terlibat dalam pelajaran.

Secara garis besar rencana pembelajarn dalam table 1 mempunyai empat phase:

  1. Persepektif atau Pembuka. Guru bertanya pada siswa:” Aktivitas apa yang telah mereka lakukan sebelumnya/ apa yang telah mereka pelajari sebelumnya? Konsep apa saja yang telah mereka punya? Lalu guru memberi gambaran tentangmateri baru.
  2. Stimulasi. Guru: (a) menanyakan satu pertanyaan untuk mengarahkan siswa berpikir tantang aktivits selanjutnya, (b) membantu siswa menghububgkan aktivitas mereka dengan kehidupannya. (c) ambil perhatian mereka melalui anekdot, adengan singkat yang ditampilkan berpasangan oleh guru atau asistan pembantu, gambar, atau lagu dan (d)gunakan response dari mereka yang untuk masuk kedalam aktivitas.
  3. Instruksi / Partisipasi guru menampilkan aktivitas, memeriksa pemahaman siswa, dan memdorong keterlibatan siswa secara aktif. Para guru dapat meminta siswa untuk berinteraksi dengan pasangan atau kelompok.
  4. Penutup. Pada phase inigurumemeriksa apa yang telah siswa pelajari denganmenanyakan pertanyaan seperti “ apa yang telah kaliampelajari?” dan “Bagaimanapendapat mu tentang aktivitas yang telah kita lakukan. Lalu gu memberi gambaran singkat tentan apa yang akan dipeljari pada pelajaran yang akan datang.
  5. Follow up (tindak lanjut). Pada phase terakhir ini para guru menggunakan aktivitas lain untuk memperkuat beberara konsep dan bahkan mengenalkan beberapa konsep baru. Guru memberi siswa – siswa kesempatan untukbekerja secara independent dan merancan beberapa aktivitas atau pekerjaan rumah.

Tentu saja guru dapat memberikan variasi dari model yang umum tersebut. Shrum & Glissan (1994) menemukan bahwa sejalan dengan waktu dalam pembelajaran bahasa dan kompetensi yang mereka capai, siswa dapat secara bertahap akan mempelajari pelajaran makin meningkat dan b ahakan dalm strukturr pelajarn tersebut (pp.187– 188).

Guru bahasa Inggris juga harus menyadari bahwa pelajaran bahasa berbeda dalam hal ini dengan pelajaran lainnya karena konsep mungkin memerlukan waktu dalam penguatan dan tentu saja denga menggunakan metode yang berbeda. Pertanyaan berikut ini perlu dijawab oleh guru bahasa Inggris sebelum merencanakan pelajaran mereka:

àAnda menginginkan siswa belajar apa?

àApakah semua tugas diperlukan untuk dilakukan dan berada pada level yang tepat?

àApa materi, alat Bantu dan sebagainya yang akan Anda gunakan?

àTipe interaksi apa yang anda dorong – kerja berpasangan atau kerja kelompok? Dan kenapa?

àinstruksi apa yang harus anda berikan dan bagaimana anda memberikannya (secara tertulis, oral, atau yang lain) pertanyaan apa yang akan anda tanyakan?

àBagaimana anda memonito pemahaman siswa pada bagian – bagian pelajaran?

Contoh dari rencana pembelajaran suthentic untuk pelajaran Membaca diberikan dalam lampiran A. Rencana pembelajaran tersebut hendaknya tidak dilihat sebbagai suatu resep atau “cara untuk “, karena setiap conteks mengajar aka berbeda. Setelah menulis rencana pembelajaran, langkah selanjutnya adalah mengimplementasikanya ke dalam kelas.

MELAKSANAKAN RENCANA PENGAJARAN

Melaksanakan rencanapembelajarn adalah phase yangpaling penting dan sulit dalam tahapan siklus rengcana pembelajaran harian. Pada phase ini rencana pembelajaran diperlakukan sebagai keadaan nyata dari kelas yang akan di ajar. Seperti yang tdiketahui oleh banyak guru berpenglaman, bahwa rencana pembelajaran mudah sekali dipengaruhi oleh hal yang tak direncanakan sebelumnya. Akan tetapi guru harus ingat bahwa rencana yang asli adalah pembelajaran yang di desain dengan maksud khusus, melalui pemikiran dan rencana yang dibuat berdasarkan diagnosis kompetensi pembelajaran siswa. Namun, guru juga perlu membuat beberapa penyesuaian pada implementasi pelajaran. Saya sarankan dua alasan penting bagi guru untuk melkukan perubahan dari rencana pembalajaran awal jika: pertama: ketika keadaan pembelajaran cenderung memburuk dan rencana semula tidak dapat membantu dalam mencapai hasil yang diharapkan. Kedua: ketika sesuatu terjadi selama bagian awal pelajaran yang memerlukan improvisasi.

Ketika pelajaran tidak berhasil, guru harus segera membuat penyesuaian dari rencan aawal. Hal ini tentu saja sulit bagi guru pemula karen amereka mungkin saja tidak punya pengalaman dalam mengenali situasi yang mengarah pada situasi yang buruk. Mereka juga mungkin kurang akan pengetahuan yang diperlukan untuk mengembangkan rencana yang diperlukan dalam situasi kelas tersebut. Tidak ada satupun panduan guru yang dapat mengantisipasi masalah apa yang mungkin akan terjadi (misalnya masalah dari luar kelas se[erti adanya interupsi dari pengunjung); akan tetapi masalah tersebut harus segera diatasi dengan cepat. Para guru mendapat pengetahuan tentang hal ini dari pengalaman.

Ketika guru mengimplementasikan rencana pembelajaran, guru dapat memantau dua isu yaitu: variasi pelajaran dan langkah pembelajaran. Variasi dan aktivitas yang dipilih akan membuat kelas jadi hidup damn menarik. Untuk memvariasikan pelajaran, guru harus sering mengubah tempo aktivitas dari cepat menjadi lambat. Mereka juga dapat mengubah pengorganisasi kelas dengan memberikan tugas, kerja berpasangan, kerja kelompok atau interaksi yang melilbatkan seluruh anggota kelas. Aktivitas – aktivitas tersebut juga bervariasi dalam hal tingkat kesulitan, ada beberapa aktivitas yang mudah sementara yang lain lebih sulit. Aktivitas tersebut juga harus menarik siswa, tidak hanya guru. Akan tetapi, Ur (1996, p 216) mengingatkan bahwa variasi dalam aktivitas tidak boleh menjadi dilakukan secara acak. Hal ini dapat mengakibatkan kegelisahan dan kekacauan. Maka Ur (1996) menyarankan aktivitas yang agak sulit dan tugas ditempatkan pada awal pelajaran dan kegiatan yang sipatnya agak diam sebelum memberikan kegiatan yang hidup. Para guru mungkin inginmencoba variasi – variasi ini agar dapat megetahui aktivitas apa yang terbaik bagi kelas mereka.

Langkah pembelajaran terkait dengan kecepatan dalam hal kemajuan pelajaran yang dicapai. Agar para guru langkah yang masuk akal maka Brown (1994) menyarankan langkah sebnagai berikut: (1) aktivitas tidak boleh terelalu lama atau terlalu singkat, (2) adanya variasi tehnik dalam melakukan kegiatanpembelajaran, (3) adanya transisi yang jelas antara tiap aktivitas. Jika para guru selalu ingat bahwa apa yangmereka lakukan adalah untuk memberikan manpaat bagi siswa, mereka akan terhindar dari jebakan melakukan variasi aktivitas hanya karena mereka telah menulis rencana pembelajaran.

MENGEVALUASI RENCANA PEMBELAJARAN

Bagian akhir dari rencana pembelajarn harian muncul setelah pelajaran berakhir (meskipun Brown (1994) menyatakan bahwa evaluasi bisa juga dilakukan selama proses pembelajaran) pada saat guru harus mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan pelajaran. Ur (1996) menyatakan pentingnya untuk berpikir setelah pelajaran usai dan bertanya: “apakah hal ini baik atau tidak dan kenapa” (p 219). Dia mengatakan bahwa ini merupakan refleksi untuk pengembangan diri. Tentu saja keberhasilan dan kegagalan tersebut merupan suatu istilan yang relative dan definisi ini akan berbeda untuk tiap guru dan siswa. Meskipun begitu, Brown (1994) menyatakan bahwa tanpa adanya komponen evaluasi dalam rencana pembelajaran, guru tidak akanpunya cara untuk mengetahui keberhasilan siswa atau penyesuaian apa yang yang harus dilakukan pada pelajaran selanjutnya.

Brown (1994) mendefinisikan evaluasi dalam rencana pelajaran sebagai suatu assessment yang formal dan informal yang dibuat setelah siswa mendapat kesempatanyan gcukup dalam belajar (p 38). Ur (1996) menyatakan bahwa pada saat mengevaluasi suatu pelajaran, hal pertama dan kriteria yang penting adalah pembelajaran siswa, karena itu adalah alasan kenapa kita menempatkan pelajaran sebagai suatu yang utama. Walaupun agak sulit untuk menilai seberapa banyak hal yang telah dipeljari dalam suatu pelajaran, Ur mengatakn kita masih dapat membuat suatu tebakan yang baik. Tebakanini didasarkan pada “pengetahuan kita tentang kelas , jenis aktivitas yang dilakukan, dan beberapa aktivitas tes informal yang memberikan umpan balik dalam pembelajran” (p 220). Ur memberiokan criteria dalam mengevaluasi keefektifan evaluasi dan mengurutkannya sebagai berikut: (1) kelas dianggap mempelajari materi dengal baik, (2) siswa terlibat dalam dengan pemaiaki bahasa asing, (3) perhatian siswa setiap saat, (4) siswa menyenangi pelajaran dan termotivasi, (5) siswa aktif setia saat, (6) pelajarn berlangsung sesuai rencana, (7) penggunaan bahasa yang komunikatif (p 220). Para pembaca mungkin saja merefleksikan criteria ini dan mengurutkannya sesuai dengan prioritasnya.

Pertanyaan – pertanyaan berikut ini juga berguna bagi guru dalam merefleskian pelajaran yang telah dilakukan (jawaban pertanyaan ini bisa digunakan sebagai basis untuk rencana pelajaran selanjutnya):

Menurut anda apa yang sebenarnya telah depelajari siswa?

Tugas tugas apa saja yang telah paling sukses? Kurang sukses? Kenapa?

Apakah anda memyelesaikan pelajarantepat waktu/

Perubahan apa (jika ada) yang akan anda buat dalam pengajaran anda dan kenapa (atau kenapa tidak)?

Selain itu juga agar pelajaran berhasil, guru dapat mennayakan siswa mereka pertanyaan berikut pada akhir pelajaran; jawaban pertanyaan tersebut dapat membantu guru pada pelajaran yang akan datang (Saya sangat mnenghidari pertanyaan seperti “ apakah kalian senang pelajaran ini?” karena adalah jenis tipe pelajaranyang sangat subjektif) :

Bagaimana pendapatmu tentang pelajaran hari ini?

Bagian mana yang mudah?

Bagianmana yang sulit?

Saran kalian, perubahan apa yang guru dapat lakukan?

KESIMPULAN

Saya telah menghabiskan hari hari dengan rencana pembelajaran para guru bahasa (baik Pre service teacher atau in service teacher). Karena kita semua punya gaya mengajar dan perencanaan yang berbeda, apa yang terdapat pada bab ini bukanlah merupakan sebagai ketentuan mutlak. Para guru harus harus menempatkan diri mereka dalam kefleksibilitasan terutama dalam membuat perencanaan, selalu ingat recana pengajaran per unit, semesteran dan tahunan. Bailey (1996) menemukan bahwa suatu rencana pengajaran seperti seperti sebuah peta jalan yang memberi gambaran ke arah mana guru akan membawa pelajaran tersebut bersama para siwa. Ini merupakan bagian kutipan terakhir yang penting untuk diingat guru karena mereka mungkin akan melakukan perubahan pada saat berlangsungnya menyatakan bahwa dalam merealisasikan rencana pembelajaran juga melibatkan kemapuan tindakan logis dari para guru dalam menata perubahan dari rancangan awal rencana pembelajaran agar proses pengajaran dan pembelajaran dapat berlangsung dengan maksimal. Secara jelas rencana pengajaran akan mempertahankan perhatian siswa dan membuat mereka makin tertarik dlam pelajaran. Suatu rencana pelajaran yang jelas juga akan memaksimalkan pemakaian waktu dan mengurangi kebingungan apa yang diharapkan dari siswa. Dengan rencana pelajaran ini maka manajemen kelas akan makin mudah.

LAMPIRAN A: RENCANA PELAJARAN

Waktu : 12: 00 PM – 12.32 PM

Mata Pelajaran : Bahasa Inggris

Kelas : Secondary 2 (SMP kelas 2)

Objectives / Tujuan : Agar siswa tahu bagaimana menggunakan teknik

skimming Untuk menemikan utama dalam satu teks

bacaan, mengidentifikasi kata kata kunci

Pengetahuan yang

Telah dimiliki : Siswa telah mempelajari bagaimana mencari informasi

dengan membaca dan menemukan ide utama yan gada

pada tiap paragraph.

Materi : 1. Bahan bacaan (artikel) dari buku olaharaga

2. Overhead Projector / OHTs

3. Whiteboard

Tahap

Waktu

Tugas (Guru)

Tugas (siswa)

Interaksi

Tujuan

1

5-10 menit

Pembuka

Mengenalkan topic “Sport”. Guru menggali pengetahuan yg dimiliki siswa tentang topic tsb.

Guru meminta siswa untuk menulis berbagai jenis olahraga di papan tulis (3 menit)

Guru meminta siswa mengurutkan olahraga favorite mereka

Mendengar

Siswa merespon dan menulis jawabahn di papan tulis

Siswa mengurutkan/merespon, Guru menulis jawaban

Guru – siswa

Membangkitkan minat / ketertarikan,

Mengaktifkan skemata siswa

Tahap

Waktu

Tugas (Guru)

Tugas (siswa)

Interaksi

Tujuan

2

5-7 menit

Guru membagikan handout dari koran tentang olahraga

Guru meminta siswa untuk membaca cepat & menjawab pertanyaan dalam bentuk BENAR – SALAH (3 menit)

Memeriksa jawaban & menunjukan bagaimana menemukan jawaban berdasarkan kata kunci dalam artikel

Siswa membaca handout dan menjawab pertanyaan

Menyebutkan jawaban

Siswa memeriksa jawaban mereka

Guru –siswa

Guru -siswa

Terfokus pada konsep “Skimming” untuk mendapat inti bacaan dari bahan yang authentic

Tahap

Waktu

Tugas (Guru)

Tugas (siswa)

Interaksi

Tujuan

3

4

15 menit

Guru mengatkan pd siswa bahwa mereka baru saja mempraktekan Skimming untuk intisari dari satu bacaan

Guru memberi handout tentang Sport dari buku teks. Guru meminta siswa untukm embaca & menjawab pertanyaan dalam bentuk BENAR – SALAH (5 – 7 menit). Guru meminta siswa menulis jawaban dan menulisnya di papan tulis. Guru menjelaskan bagaimana kata kata kunci dapat menunjukan jawaban.

Guru merangkum tentang pentingnya membaca cepat untuk mendapatkan intisari bacaan

Guru memberi pekerjaan rumah membaca dengan bahan berita utama yan gdimuat surat kabar edisi esok hari, siswa menulis intisari berita tersebut dalam empat kalimat

Tindak lanjut:

Pada pelajaran selanjutnya: guru mengajari siswa tehnik Scanning untuk mendapat ide utama gagasan.

Siswa membaca handout dan menjawab pertanyaan

Siswa memberikan jawaban mereka pada guru

Siswa mengecek jawaban mereka

Siswa mendengar

Guru – siswa

Guru – siswa

Siswa – siswa

Guru – siswa

Guru – siswa

Siswa membaca cepat untuk mendapat intisari bacaan

Mengingatkanb siswa apa yang baru saja mereka lakukan dan mengapa – untuk mengembangkan kesadaran metacognitive siswa.

TAXONOMY BLOOM

PROSES BERPIKIR DALAM TAXONOMY BLOOM

Level Taksonomi

Definisi

Peranan Siswa

Kata kerja

Pengetahuan

Merecall informasi yang spesifik

Merespon

Menyerap

Mengingat

Mengetahui

Menceritakan, mengurutkan, mendefinisikan

Menamai, menentukan identitas, menyatakan, meningat, mengulang

Pemahaman

Memahami informasi

Menjelaskan

Menterjemahkan

Mendemonstrasikan

Menginterpretasikan

Mentranformasikan

Mengubah, mengulang, Melukiskan, Menjelaskan, Mereview, Memparaprase, Menghubungkan, Menjeneralisasi

Aplikasi

Memakai aturan, konsep, prinsip-prinsip, dan teori – teori dalam situasi baru

Memecahkan masalah, Mendemonstrasikan, Menggunakan pengetahuan, Mengkopnstrak

Aplikasi, Melatih, Melakukan, Mendemonstrasikan, Mengilustrasikan, Menunukan, Melaporkan

Analisis

Memecah informasi menjadi bagian – bagian

Berdiskusi

Mengurutkan

Membedah

Menganalisa, Membedah, Membedakan, Memeriksa, Membandingkan, Membedakan, Mensurvey, Menginvestigasi, Memisahkan, Mengkategorikan, Mengklasifikasikan, Mengorganiosasikan

Sintesis

Menggabungkan ide ide baru atau rencana baru

Berdiskusi

Mengeneralisasikan

Menghubungkan

Membedakan

Menciptakan, Menemukan, Membuat, Membangun, Mendesain, Memodifikasi, Membayangkan, Memproduksi, Mengusulkan,

Evaluasi

Menentukan nilai suatu bahan atau ide berdasarkan standar – standar atau kriteria

Memutuskan (menentukan)

Mendebatkan (argument)

Membentuk opini

Mendebatkan

Menentukan

Memutuskan

Memseleksi

Mengevaluasi

Mengkritik

Mendebatkan

Memverifikasi

Merekomendasikan

Memilih

Mengukur

Diadaptasi dari Shrum & Glisan (1994)

Referensi:

1. Bailey, K.M (1986). The best-laid plans: Teachers’ in classdecision to depart from their lesson plans. In K.M. Bailey & D. Nunan (Eds), Voices from the language classroom: qualitative research in second language classrooms (pp.15-40). New York; Cambridge University Press.

2. Borko, H., & Niles, J. (1987). Description of teacher planning; Ideasfor teachers and researchers. In V. Richardson-Koehler (Ed), Educators’ handbook: A research perspective (pp.167-187). New York: Longman

3. Brown. H.D. (1994). Teaching by Principles: An interactive approach to language pedagogy. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Regents.

4. Freeman, D. (1996). Redefining the relationship between research and what teachers know. In K.M. Bailey & D. Nunan (Eds), Voices from the language classroom: Qualitative research in second language classrooms (pp. 88-115). Ney York: Cambridge University Press.

5. Hunter, M., & Russel, D. (1977). How can I plan more effective lesson? Instructor, 87, 74-75.

6. McCutcheon, G. (1980). How do elementary school teachers plan? The nature of planning and influences on it. Elementary School Journal, 81 (1), 4-23.

7. Purgason, K.B. (1991). Planning lesson and units. In M. Celce Murcia (Ed), Teaching English as a second or foreign language (2nd ed., pp. 419-431. Boston, MA: Heinle & Heinle.

8. Richards, J.C. (1990). The language teaching matrix. Cambridge University Press.

9. Richards, J.C. (1998). What’s the use of lesson paln? In J.C. Richards (Ed). Beyond training (pp.103-121). New York: Cambridge University Press.

10. Richards, J.C., & Lockhart C (1994). Reflective teaching in second language classrooms. Cambridge: Cambridge University Press.

11. Shrum J.l., & Glisan, E. (1994). Teacher’s handbook: contextualized language instruction. Boston, MA: Heinle & Heinle.

12. Taylor, C. (1970). The expectations of Pygmalion’s creators. Educational Leadership, 28, 161-164.

13. Tyler, R. (1949) Basic principles of curriculum and instruction. Chicago: University of Chicago Press.

14. Ur, P. (1996). A course in language teaching: Practice and theory. Cambridge: Cambridge University Press.

15. Yinger, R. (1980). A STUDY OF TEACHER PLANNING. Elementary School Journal, 80 (3), 107-127.

Oleh: Thomas C Farrell

http://www.curriki.org/xwiki/bin/download/Coll_suhendri/TERJEMAHANPLANNINGALESSON/Translation1.doc

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: